Google+ Followers

Pages

Friday, October 21, 2011

Thank God It's Friday! (For Today)

Penulis baru memahami arti #TGIF atau Thank God It's Friday setelah mengecap pahit manisnya dunia kerja.
(Walau baru kerja magang, tapi ini pengalaman kantoran Penulis untuk pertama kalinya loh).

Senin:
Hari pertama di minggu yang baru.
Hari yang sangat membutuhkan semangat untuk menjalaninya.
Oleh karena itu biasanya, Sabtu atau Minggu sudah harus refill energi nih.

Selasa:
Hari kedua, sudah mulai terbiasa dan pikiran sudah mulai tertata untuk kembali bekerja.
Keinginan untuk segera weekend masih sangat kuat.

Rabu:
Hari ketiga, akan terasa mulai stabil atau bisa jadi labil.
Di sini hari yang dijalani terasa seperti sedang menikmati kerjaan atau sedang menikmati kepenatan. Pilihlah.

Kamis:
Hari penantian akan datangnya weekend akan segera terwujud.
Pastinya semangat 45 untuk sesegera mungkin menghabiskan hari.

Jumat:
YEAH! Saatnya bersenang-senang, meski masih ada 9 jam lagi menuju weekend!
Dan inilah saatnya pasang status #TGIF :)

(tapi) Seharusnya setiap hari kita mengucap syukur, loh!
Nah kalau gini beda lagi statusnya. Harusnya status kita "THANK GOD FOR TODAY!"
Itu baru namanya menikmati hari di setiap hari, bukan cuma hari Jumat.. :D
Semangat-semangat-semangat! <3

Thursday, October 13, 2011

Kisah Langit Kala itu

Langit kala itu tampak mendung
Tanda-tanda kedatangan kegelapan membayangi
Hingga hujan pun mengaburkan pandangan

Suram, berkabut
Langit bak bersedih
Titik-titik air matanya menceritakan itu
Ia menumpahkan seluruh bebannya

Ya di kala itu

Ia selalu memiliki impian kan datangnya pelangi
Keindahan sinar berwarna-warni kan datang mengganti kesenduannya
Dan harapan akan pelangi terindah selalu menjanjikan

Awalnya berat
Waktu seakan menguji ketetapan hati

Namun, meski hujan masih turun dengan deras
Ia akan tetap mempertahankan mimpinya
Impian akan kehangatan dan keceriaan
Pelangilah yang akan menjadi bayarannya

Friday, October 07, 2011

Pengetahuan tentang Wawancara #4

#4 KingDom (Praktek Kerja Magang)

This is my last interview (for internship 2011). Dan inilah keajaiban Sang Pencipta si Penulis. Berbekal status di salah satu jejaring sosial dunia maya, eh dipanggil wawancara. Thanks God!

Anyway, saat itu sebelum dipanggil untuk wawancara, Penulis diminta menghubungi si penawar kerjaan tersebut. Dan yang menawarkan peluang magang di tempat tersebut bisa disebut seorang bule yang tidak berbahasa Indonesia. My! Bahasa Inggris memang kudu musti dipelajari yah, tidak hanya penulisan, tapi juga percakapan. Dan inilah kali kedua Penulis harus berbahasa Inggris dengan orang yang benar-benar tidak bisa berbahasa Indonesia. Great!
Acak adut ngomongnya, bahkan pakai acara nulis script segala, dan pas dengerin dia ngomong, Oh! langsung gak jelas apa dia bilang. Marvelous! Tapi satu hal terakkhir yang bisa ditangkap adalah dia atau sekretarisnya akan nelpon Penulis, yeah!

Keesokannya ada yang telepon dengan nomor biasa, dan otak Penulis saat itu sedang girang bin sinting, alhasil percakapan dapat digambarkan seperti berikut:

Si Penelpon bilang “Halo” dengan nada manis;
Penulis menjawab “Eh Pi, uda bisa conference bertiganya?” dengan nada semangat nan cempreng. Yah, "Pi" itu nama teman Penulis –fyi.
Dia pun tetap berusaha meyakinkan bahwa dia bukan "Pi" dengan berkata, “Halo, ini Christina.”
Dan akhirnya Penulis sadar, salah orang. Man! Suara pun diatur menjadi satu oktaf di bawah nada semestinya dan Penulis akhirnya berkata, “Halo”. Dan sekian-sekian.

Kalau mau tau, telepon tadi adalah dari sekretaris si Penawar Kerjaan. Dan sekretaris tersebut meminta data diri dan foto melalui email. Tak lupa Penulis pun meminta alamat email dan nomor telepon untuk memastikan email terkirim. Awalnya setiap kali SMS dan telepon tidak pernah ada balasan dan konfirmasi. Hingga berselang beberapa hari kemudian Penulis diberitahukan bahwa bagian HR akan menghubungi Penulis untuk keterangan lebih lanjut tentang lamaran pekerjaan magang di tempat tersebut.

Dan kemudian janjian untuk wawancara sudah ditetapkan. Persiapan untuk wawancara Penulis tidak terlalu maksimal. Pencarian data mengenai perusahaan yang akan Penulis tempati terlalu minim dan hal esensial, seputar pekerjaan yang akan nantinya menjadi kegiatan Penulis, malah tak terlalu diperhatikan saat browsing.

Singkatnya, pelajaran yang didapat saat menjelang/sesaat/setelah sesi wawancara yaitu:

  • Perhatikan bagaimana gaya di perusahaan tersebut (baca: gaya berpakaian para pekerjanya, jika kalian sudah pernah ke tempat tersebut).
  • Telusuri bagaimana perusahaan yang mau dituju melakukan pekerjaan yang akan ditempati oleh kita saat diterima.
  • Aktif bertanya dan follow-up.
  • Jangan takut karena tidak bisa berbahasa Inggris.
  • Tetap menjaga hubungan komunikasi yang baik dengan orang-orang yang memberikan kita pekerjaan.
  • Mempersiapkan solusi yang kreatif dan masuk akal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin menyangkut perusahaan dan pandangan kita terhadap perusahaan tersebut.


Dan disinilah Penulis ditempatkan oleh Sang Pemilik Waktu Sejati. :D
Semoga Penulis tidak mengecewakan semua yang telah dipercayakanNya. #EndForNow

Pengetahuan tentang Wawancara #3

#3 NS* (Kerja – Magang)

Nah yang satu ini agak berbeda. Setelah memasukkan lamaran, lama setelahnya baru Penulis dipanggil. Pertama Penulis dipanggil via telepon yang mengalami gangguan (pada saat diangkat, ternyata tidak ada suara dan mati mendadak). Yah, siapa sangka itu dari sebuah perusahaan yang akan menanggapi permintaan lamaran. Penulis baru menyadarinya setelah beberapa menit kemudian masuk teks dari salah satu bagian Marketing Communication NS*. Kegembiraan menutupi hal penting yang harus Penulis lakukan saat itu, yaitu mengonfimasi/membalas pesan tersebut. Hal ini Penulis abaikan karena beberapa hal, yaitu tidak ada pulsa dan teks tersebut hanya bernada pemberitahuan, adapun itu sebuah teks yang disampaikan pada ± sekitar pukul 18.00.

Anyway, di hari-H Penulis ternyata diwawancari oleh 1 tim dari bagian Markom (atau sudah dicampur - I don't even know). Mereka pun membagi sesi wawancara menjadi 2, yaitu sesi berbahasa Inggris dan sesi berbahasa 'campuran' (boleh memakai Bahasa Indonesia). Di saat itulah Penulis merasa bahwa kecintaan akan Bahasa Ibu Pertiwi lebih mendalam. :D

Pelajaran yang Penulis ambil dari sesi wawancara kali ini adalah:
  • Datang setengah jam sebelumnya agar bisa mempersiapkan diri setelah sampai di tempat tujuan.
  • Mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang gaya wawancara yang di tempat tersebut (kalau memang mengetahui ada orang yang pernah melakukan wawancara di tempat yang sama).
  • Bersiap dengan sesi wawancara menggunakan Bahasa Inggris.
  • Tidak boleh terlihat gugup, misalnya berbicara sambil terbata-bata, kebanyakan “ehm..”, atau duduk dengan posisi tidak nyaman.
  • Percaya akan kemampuan diri sendiri, penampilan diri sendiri, dan kelayakan diri sendiri.
  • Mengonfirmasi/membalas setiap pesan, baik berupa teks atau telepon. Hal ini agar terlihat bahwa kalian selalu bisa diakses, kapan pun, dimana pun, dalam keadaan apa pun.
  • Menanyakan dengan jelas kapan hasil pengumuman wawancara akan keluar.
  • Selalu minta konfirmasi akan status hasil lamaran bisa menarik perhatian “khusus”.


Dan seperti kisah Penulis saat terima teks panggilan wawancara di atas, alhasil Penulis tidak diterima hanya karena dinilai memiliki jadwal yang tidak fleksibel. Dan pernyataan ketidaklulusan tes wawancara tersebut Penulis dapatkan secara tidak langsung dari pihak lain yang masih bersangkutan.

Jadi yang kali ini, belum waktunya.

Thursday, October 06, 2011

Pengetahuan tentang Wawancara #2

#2 KG (Beasiswa – Magang – Kerja)

Kali kedua dari pengalaman wawancara Penulis adalah ketika hendak merebut tiket beasiswa dari KG, dimana selain mendapat beasiswa dari KG, Penulis bisa mendapat kesempatan bekerja di perusahaan tersebut untuk magang dan kerja setelah lulus. Di saat itu perasaan gugup lebih merajai dibanding saat pertama kali. Walau begitu perasaan untuk tetap berpikir positif terngiang.

Saat itu, pengalaman yang didapat pada wawancara pertama kali akan diterapkan oleh Penulis di kali ini. Namun, ternyata muncul lagi pengalaman baru yang didapat:

  • Harus bisa “menjual diri” semenarik mungkin (bukan dalam artian negatif loh!).
  • Berpenampilan yang formal (tidak terlalu menjamin), yang penting nyaman.
  • Harus mengetahui tentang program dan menetapkan target yang masuk akal akan program/perusahaan tersebut.
  • Memiliki pertanyaan yang bisa ditanyain kepada mereka, tapi masih dalam standarnya.
  • Mengabaikan perilaku si penanya/HR yang tidak berhubungan dengan wawancara (abis, yang terkesan sekali saat itu adalah saat si Penanya bertanya sambil berkonsentrasi membersihkan hidungnya).
  • Datang tepat waktu, untuk melihat siapa kira-kira penanyanya dan tidak merasa terintimidasi oleh mereka.
  • Harus menunjukkan semangat dan keinginan kuat untuk mendapatkan yang ditawarkan perusahaan.


Kalau sesi wawancara kali ini, waktu yang dibutuhkan tidak lama, hanya sekitar 15 menit. Namun pada akhirnya, Penulis tidak lolos pada tahap wawancara tersebut.

Pengetahuan tentang Wawancara #1

#1 Hotel A*, Tangerang (Kerja – Magang)

Awalnya cuma iseng-berhadiah ngelamar ke sana, namun ternyata kepanggil wawancara bersama teman-teman seperjuangan. Dan sebelum hari wawancara, banyak informasi mulai meracuni pikiran untuk tidak menerima panggilan di sana, karena Penulis malah takut kalau akan langsung kepanggil kerja. (Pemikiran yang terlalu optimis!)

Alhasil di hari-H, pakaian yang dikenakan hanya sekenanya (alias “baju-gembel kuliah” kemeja kotak-kotak berlapis dan jins item). No make-up. No parfume, padahal habis ke Jakarta (baca: taruh CV di tempat lain). Waktu itu gak ada yang namanya rasa deg-degan takut gak ketrima. Adanya rasa percaya diri karena gak mau kerja di sini dan hanya ingin menjadikan wawancara dengan bagian HRnya sebagai pengalaman yang menyenangkan aja.

Waktu itu, pengalaman yang didapat:

  • Foto CV disarankan menggunakan blazer, make up natural, rambut dirapikan/diikat.
  • Duduk ambil posisi yang nyaman, tidak bersandar, juga tidak terlalu ujung duduknya.
  • Bertanya tentang divisi yang cocok dengan jurusan.
  • Mengetahui secara garis besar susunan organisasi perusahaan.
  • Waktu wawancara harap memakai make up tipis (walau hanya bedak dan lipstick/lipgloss –untuk wanita) agar tidak terlihat kusam.
  • Memakai parfum untuk mendapat kesan “tidak berantakan”.
  • Menunggu sambil berinteraksi dengan orang senasib akan membantu menghilangkan sedikit beban dan menjadikan diri lebih relaks, bahkan seperti berlatih berbicara dengan tata yang baik dengan mereka.


Setelah wawancara dengan bagian HRnya, Penulis dibawa untuk menemui bagian PRO, di sini suasana mulai berubah menjadi lebih formal dan menegangkan karena ditanyain lebih detail ke kemampuan diri sendiri.
Kali ini, pengalaman yang didapat:

  • Berkata yang jujur (tapi jangan terlalu polos juga, beda loh!).
  • Tunjukkan kemampuanmu.
  • Beritahukan kelebihan dan kekuranganmu yang sesuai dengan dirimu sendiri.
  • Tidak berlebihan, kecuali memang ada yang bisa dipamerkan.


Dan setelah melewati sekitar 4 jam untuk wawancara (kelamaan di bagian menunggu), akhirnya langsung diputuskan bahwa Penulis keterima di perusahaan tersebut. Dan memang benar, Penulis dari awal memang sudah merasakan hawa positif dari perusahaan ini, tapi Penulis tidak memiliki jiwa dan hati di perhotelan seperti ini (lebih karena syarat dan tempat tidak mampu menghidupkan keinginan Penulis untuk bekerja di sana). Akhirnya, surat pengunduran diri sebelum dimulainya praktek kerja magang di tempat tersebut sudah berada di meja kepala HR baru di hotel tersebut. (Sorry, Mam.)

Monday, October 03, 2011

Sinar Oktober

September telah terlewatkan dengan hari-hari penuh tawa dan tangis.
Setiap mimpi dan harapan mulai menunjukkan bayangannya di depan mata.
Akankah di bulan yang baru Sang Mentari akan padamkan sinarNya?
Tentu tidak! Berharap padaNya adalah salah satu jalan untuk dapat menyaksikan hari esok yang lebih cerah.
Semoga bulan Oktober ini bisa menjadi bulan yang lebih bersinar dibanding sebelumnya.
Tetap bekerja dan berdoa!

Tak Berhenti di Sana

Hampir tiga bulan...
Memang bukan waktu yang cukup lama -bagi kalian yang memiliki jadwal panjang berlibur.
Dan bukan pula waktu yang cukup singkat -bagi kalian yang sedang berharap cemas akan datangnya masa tenggak.


Ya!
Jika dikatakan "untuk meraih mimpi perlu darah dan air mata", tentu kalimat tersebut tak berhenti sampai di situ saja.
"Suatu saat, tuaian hasil jerih payah akan terlihat".

Tetap semangat!