Google+ Followers

Pages

Tuesday, December 22, 2009

Just For You Mom!

Hundreds of dewdrops to greet the dawn,
Hundreds of bees in the purple clover,
Hundreds of butterflies on the lawn,
But only one mother the wide world over.

~George Cooper

http://quotegarden.com/mom-day.html

HAPPY MOTHER'S DAY

LoveLoveLoveLoveLoveLoveLove
and always LOVE YOU, MOM!

Saturday, November 28, 2009

Distortion

Sesak. Sempit. Tak ada lagi sarat nafas.
Pikiran pergi melalang buana. Sirna.
Yang tak berani kupikirkan.
Yang tak sempat singgah dalam otak.
Yang kujaga agar tak rusak.

Semua yang rapuh.
Takkan kuserahkan kepada semua anak perusak.
Takkan kubiarkan mereka menjejakkan kaki ke atas lapisan hati es yang tipis.
Sedetik pun bisa hancur.

Hanya kejelasan yang kupinta. Dari si empunya.
Bukan dari celotehan mereka.

Kecewa.
Tidak.
Tapi lebih dari itu!
Laksana ditinggal matahari, bintang terpaksa menghiasi malam.

Ini Kesalahanku kedua.
Nurani disiksa kenyataan.
Kenyataan yang harus kutelan.
Bak obat batuk yang pahit.
Kenyataan malah tersangkut di tenggorokan.
Apa aku sudah siap menelannya?

Otherwise, congratulations~

Monday, November 23, 2009

Buaian Angin Desember

Inilah salah satu bau yang kurindukan...
Yang terlupakan...

Alam membentak kesibukan makhluk pelupa...
Mengirimkan angin, mengiriskan dingin...
Matahari enggan menenangkan angin, hanya mengintip di balik kehangatan...
Pohon ikut menari merayakan alam yang tak terbelenggu rutinitas...
Bendera berkibar-kibar menyatakan kemerdekaannya...

Ketenangan pribadi kembali terhadirkan...
Nyanyian merdu ritual penyambutan terdengar merayu...
Memaksa insan menikmati keteduhan sang Mahakarya...
Hadirkan kerinduan batin yang lelah...
Jua kenyamanan jiwa yang lebam...
Lelaplah kini segala kepenatan dalam kelembapan alam...

Wednesday, November 18, 2009

Our Father - Big JC

Prayer:
"Our father which art in heaven
Hallowed be thy name.
Thy kingdom come,
Thy will be done in earth,
as it is in heaven.

Give us this day our daily bread.
And forgive us our debts, as we forgive our debtors.
And lead us not into temptation, but deliver us from evil.

For thine is the kingdom, and the power, and the glory, forever, amen."


Jangan Katakan...

Jangan mengatakan BAPA,
kalau sehari-hari tidak berlaku sebagai anak.
Jangan mengatakan Kami,
kalau engkau hidup tersendiri dalam egoismemu.
Jangan mengatakan Yang Di Surga,
kalau hanya memikirkan hal-hal duniawi.
Jangan mengatakan Dikuduskanlah Nama-Mu,
kalau tidak menghormati-Nya.
Jangan mengatakan Jadilah Kehendak-Mu,
kalau tidak mau menerimanya bila ternyata adalah berat dan pahit.
Jangan mengatakan Berikanlah Kami Pada Hari Ini Makanan Kami Yang Secukupnya,
kalau tidak prihatin akan mereka yang lapar, orang buta huruf dan tanpa harapan untuk besok.
Jangan mengatakan Ampunilah Kami Akan Kesalahan Kami,
kalau masih menyimpan kebencian terhadap saudaramu.
Jangan mengatakan Janganlah Membawa Kami Ke Dalam Pencobaan,
kalau masih bermaksud berbuat dosa.
Jangan mengatakan Lepaskanlah Kami Daripada Yang Jahat,
kalau tidak berani mengambil posisi melawan kejahatan.
Jangan mengatakan Amin,
kalau tidak menganggap serius setiap kata dalam doamu.

-Just Fwd-

Wednesday, November 11, 2009

To Be Somebody From Nobody

Untuk Menjadi Seseorang - to be somebody

Janganlah cepat bangga dengan hasil yang telah kau dapat sekarang!
Buatlah itu menjadi sebuah awal dari keberhasilanmu.

Janganlah sombong dan tinggi hari!
Tapi, tetaplah ingat untuk menjadi dirimu sendiri yang sederhana.

Buatlah orang tuamu bangga,
teman-temanmu bangga,
semua orang di sekitarmu ikut bangga karena telah mengenalmu,
bahkan buatlah dirimu bangga akan eksistensi yang telah kamu berikan kepada dunia,
tak lupa,
buatlah Tuhanmu menjadi bangga telah menciptakan dirimu yang berharga,
dan teruslah muliakan Tuhan dalam setiap pekerjaanmu.

so...
Raihlah cita-cita setinggi langit dan seluas lautanmu.
Jadikan hobimu menjadi sesuatu yang lebih berarti -baik adanya- dengan semua kreativitasmu.

Friday, November 06, 2009

Kutipan "Love isn't Blind"

~"Cinta Buta" terdengar begitu indah. Tidak memedulikan apa pun, melupakan makan-minum atau hal lainnya; melanggar semua aturan; merasa bahwa dunia tersenyum dan selalu tersenyum pada dunia, selalu berdebar-debar; setiap sentuhan sekecil apa pun seperti mengalirkan berjuta-juta volt listrik.
Tapi itu tidak sempurna.
Cinta yang sempurna itu tidak buta. Mereka melihat. Dunia terlihat jelas. Mereka mempunyai alasan untuk mencintai dan ada aturan-aturan untuk itu. Mereka tidak bebas; mereka harus saling mengerti, mengingatkan, bertengkar, kemudian memaafkan.~

LOVE is b-l-i-n-d IS a L.I.E

*from: A Perfect Love - Yuchita Erayanie

So, jangan biarkan cintamu "buta", tapi buatlah ia "melihat" apa yang telah terjadi di dunia.

Friday, October 30, 2009

Live Your Life, Today!

"Belajarlah dari Hari Kemarin,
Hiduplah untuk Hari Ini,
dan Berharaplah pada Hari Esok.
Yang Penting,
Jangan Berhenti Bertanya."

Albert Einstein; Ilmuwan

Ini emang selalu terjadi dalam hidup. Saat kita bertanya-tanya, "kenapa hari ini harus terjadi hal seperti itu?" atau "apa sih yang harus gue lakuin hari ini?" Banyak kebimbangan, keraguan, bahkan penyesalan dari dalam diri kita. Kita tidak mau kegagalan menghadang tiap langkah kita.
Oleh karena itu, marilah kita tetap melakukan evaluasi dalam keseharian kita. Dari hal yang terkecil sekalipun, kita harus menghargai itu. Siapa tahu tindakan kecil kita malah bernilai besar di hadapan orang lain. Dari sini, pikiran kita akan lebih terbuka dan positif. Semua yang akan kita lakukan ke depan akan semakin membentuk kita menjadi pribadi yang lebih menghargai hari ini. Hari esok pun akan menjadi lebih cerah.
So always keep smile wherever-however you are ^^v
Live your Life....
God bless your day~

Wednesday, October 28, 2009

Kutipan "Wanita Cantik"

"Tak ada sesuatu pun
yang bisa membuat seorang wanita
merasa lebih cantik
daripada
keyakinan
bahwa dirinya memang cantik."


SOPHIA LOREN; Aktris Film

Tuesday, October 27, 2009

Persahabatan Kita

Kenapa baru sekarang mikirin masa depan?
Jadi,
semua yang dari kemarin kau lakukan
tak ada hubungannya
dengan masa depanmu?

Walaupun dalam keadaan sesusah apapun, kita harus memilih masa depan yang benar-benar 'cerah' dan sesuai mimpi-mimpi terindah yang pernah ada.
Tapi rupanya itu hanya teorinya, tanpa seluruh perahan 'kemampuan' yang kita miliki -semua itu gak ada gunanya! Buat apa lagi kau meminta masa depan yang cerah, tapi kau mau tinggal dalam penyesalan yang sudah lewat! Selalu mengulangi dosa!
Jalanilah kehidupanmu yang ada sekarang dan jangan pernah lupa untuk mengucap syukur!
Kekuatan ungkapan syukur dahsyat di masa sulit!

Yang penting sekarang hadapilah yang di depan matamu dahulu;
"masalah hari ini biarlah selesai hari ini.
dan masalah besok dipikirkan besok!"
Dengan ini U'll be enjoy your life!
I always hope the best for your life!
Tapi kalo begini caranyakan berarti gagallah sudah misi seorang sahabat untuk menjaga sahabatnya bebas dari jeratan setan.
I just mean nothing to you!
Sungguh menyedihkan...
I'll do anything for help you. But I'm not a superhero.
I'm just an ordinary people in an ordinary world.

Now, I wish you don't did it again!
Jangan pernah ada penyesalan lagi dalam hidupmu
sudah cukup
sudah habis
namun jangan pernah merasa aku akan pergi

Kesendirianmu selalu menjadi kelemahanku
Kesepianmu juga kesedihan bagiku

Apa yang akan telah kugenggam akan kubagi denganmu
Apa yang menjadi kelebihanku biarlah menjadi buah kebahagiaan bagimu jua

Berbagi denganmu akan mudah,
jika kau tetap menjaga nilai persahabatan ini.
Antara kau dan aku.
Saudara.

Jarak takkan menjadi batasan bagi kebersamaan kita
Tidak akan pernah! Niet. Nicht. And never.
"Jaga dirimu untuk yang kesekian kalinya"
Biarlah waktu 'kan membawa kita bertemu kembali


~to my lovely and always be one of my beloved~
2007

Monday, October 26, 2009

Keep Smile (^o^)

Jika kamu sedih,
Janganlah kamu menangis

Karena
setiap tetesan air matamu itu
mengandung banyak kebahagiaan

Jadi
Janganlah biarkan kebahagiaan itu mengalir deras
keluar dari dalam kehidupanmu

Friday, October 23, 2009

Pergi untuk Kembali

berpisah...
Mengapa harus ada kata 'berpisah'?

Walaupun kita saling membenci
Walaupun kita saling menyayangi
Kata itu tetap akan berada di akhir kisah -
Kisah kita

Inikah rasa itu?

Betapa pahit,
Betapa perih,
Betapa sedihnya hati ini

Akankah kita bertemu lagi?

Ya.. Ya.. Pasti!
Kita pasti 'kan bertemu lagi

Memang benar kata orang
Ada kala kita berjumpa
Ada kala juga kita berpisah
Tapi kita "Pergi untuk Kembali"

Thursday, October 22, 2009

Hilanglah Semua

Ingin kumenjerit
Angin yang menjawabnya

Aku terkunci di kotak pandora
Setiap hariku menjadi pusat perhatian
Namun tak satupun kan menegur

Kaki yang tertatih-tatih mencari keberadaan
Semua hanya akan hilang

Ditelan waktu dan perasaan ini

Tuesday, October 20, 2009

Itulah Diam

Hm...
Sepatah kata tak terucap
Diam seribu bahasa melanda
Kesunyian menguasai suasana

Hm... ku terdiam
Diam itu emas, diam tanda sabar dan kesetiaan
Diam dapat menenangkan hati yang cemas
Diam bukan pemalu!
Diam bukan tidak tahu!

Dalam diam terdapat banyak jawaban
Dalam diam kau termukan dirimu

Walau terdiam, kau tidak kalah
Perut tidak akan kekurangan jika engkau diam
Tetapi,
tunjukkanlah dirimu
berbicaralah dalam diam


nB: Tapi jangan pernah sekali-kali membuat di Di~Am marah!


[Rev] 04-08-06

Saturday, October 17, 2009

U not Know Me!

Sometimes
when u feel like they can be the only one you can trust..
U'll find what is hurt, sad, dishonest,
or guilty...

Open ur eyes!
They dont know the best for u..!

Why?

Because the one that "perfectly" know the best for u is not in here.. Right now..
Not in front ur eyes..
But HE just watching u from His place..

Just leave it to HIM
and HE will make a beautiful scenes for your life..


u=me

Wednesday, October 14, 2009

Aku


daripada aku menjadi aku
yang kamu harapkan

aku lebih ingin
menjadi aku yang aku harapkan

kata-kata ini
bukan aku sendiri yang membuatnya


tapi

adalah kata-kata yang
dari dulu ingin
aku katakan




= copied =
Komik Lady Victorian ver. Indonesia
Karangan Naoko Moto

Tuesday, October 13, 2009

ADIOS, PUTRI!

Created by: Christina Toar

Awan kelam tipis turun perlahan mengisi suatu pagi. Semua tanda kedatangan titisan sejuta air ke bumi, seakan menjadi ekspresi perasaanku kini. Biarlah hujan saja yang menjadi curahan hati ini. Saat ini.

Perasaan yang dulu itu kembali hadir.

Saat kau melihatnya, kau akan merasakannya. Tidak dapat terkatakan rindu ini. Sakit ini. Pedih ini. Tak ada satu pun yang bisa mewakili hati yang telah lama terbuai oleh kesia-siaan.

Jika kau bersamanya aku tidak apa-apa. Tetapi saat kau memegang tangannya, lukisan wajahnya sama. Sama seperti di saatku memegang tangannya. Mata yang memancarkan kerinduan. Senyum yang memberikan ketenangan. Semu merah di pipinya. Dia tampak hidup dan nyata di duniamu. Dan aku pun merasakan hal yang sama.

Di kala senang, dia selalu melipatgandakan kesenangan itu.

Katanya, “tidak ada yang tidak bisa aku lakukan, lho!”

Ia selalu membangga-banggakan keahliannya itu. Dan aku pun pasti akan tertawa mendengarnya.

Ia memang selalu benar. Saat itu.

Di kala bimbang, dia selalu hadir memberi semangat. Ia memiliki semua kata yang ingin kudengar. Ia tahu semua yang kuinginkan, yang kubutuhkan.

Dan ia selalu ada saat itu. Bukan saat ini.

Di kala hati ini sedih, dialah tempatku bermanja. Ia selalu tampak dewasa dan sempurna di mataku.

Tapi, kali ini dialah penyebab luka ini.

Dia dalangnya.

Sekarang mimpi terindahku berubah menghantuiku.

Dua tahun telah kulewati bersamanya. Hanya dialah pilihan terbaikku diantara yang lainnya. Tapi, hanya dalam dua hari pula ia menghancurkannya.

Apa dosaku? Apa dendammu?

Salahkan saja matahari yang selalu enggan untuk menampakkan sinarnya di malam hari. Benci saja air yang selalu mengalir dari hulu ke hilir. Pukul saja angin yang selalu kau hirup. Jangan aku!

Apakah kebawelan dan kemanjaanku yang kau permasalahkan?

Oh, kaulah yang paling mengerti dan memahami aku! Itu yang pernah kau katakan. Remember?

Tapi kenapa?

Kau tawarkan ‘ku sejuta harapan

Namun kenangan itu tak pernah hilang

Ku ingin kau tahu betapa rapuhnya aku

Lagu Joeniar Arief bersenandung sendu di sela-sela i-Pod yang kudengar makin membuatku sakit. Mengapa semua tidak seindah yang kuharapkan?

Eline dan Sophia, sahabatku, selalu memperingatkanku untuk tidak terbawa suasana. Mereka tahu bahwa di saatku mulai terjerumus ke dalam, maka semua akal sehatku akan tak terkendali. Aku akan semakin rapuh.

Kali ini Sophia-lah orang pertama yang membeberkan tentang kenyataan itu. Fakta yang tidak dapat kuhindari lagi. Fakta yang harus kuhadapi lagi.

Seminggu yang lalu aku memang sudah merasakan ada yang janggal. Ia tidak pernah meneleponku lagi. Di sekolah ia sulit ditemukan. Ia selalu menghindar ketika tatapannya bertemu denganku. Setiapku bertanya, ia hanya diam dan berkata kalau ia sedang sibuk, gusar, atau kesal. Secara tak langsung statusku berubah baginya. Bukan lagi pacar, tapi musuh. Musuh yang hanya melihat muka pun mual rasanya.

Semua terungkap dua hari yang lalu. Baru saja Honda Jazz purple-ku keluar parkiran sekolah, dan aku melihat dia bersama si Centil, anak kelas X-5. Memang ia termasuk anak baru yang jago cheerleaders. Sedangkan aku hanya berbakat dalam bidang seni musik. Tapi aku bangga dengan hal itu. Ketika aku bernyanyi dan bermain gitar, dunia serasa memujaku.

“Tak hanya itu,” kata Eline, “walaupun kamu kalah cantik dari aku, tapi penampilan dan kepercayaan diri kamulah yang menarik para kaum adam memilihmu.”

Itulah yang meyakinkanku kalau dia pasti tidak akan berpaling dariku.

Tapi kenyataan berkata lain. Dia lebih memilih memegang tangan Angga, si Centil yang tidak tahu malu.

Sorot matanya kepada si Centil tak dapat kulupakan. Hampir kutarik rambut si Centil itu. Namun sayangnya, semuanya hanya dalam anganku. Mobil-mobil di belakangku tidak mau tahu apa yang kurasakan. Mereka hanya bisa berteriak-teriak, seperti anak ayam ditinggal induknya. Mereka memaksaku menjauh dari tempat itu.

Malamnya kutagih jawaban itu darinya. Kau tahu jawabannya? Ia tidak menyangkalnya! Juga tidak memberikan penjelasan. Ia hanya menggantungkan semuanya. Tak ada yang jernih. Semua tertutup kabut.

Akhirnya, Sophia angkat suara. Ia menceritakan tentang tahun ketiganya di SMP yang baru. Pada saat itu mereka sekelas. Hanya dengan kepintaran dan kecantikannya, Sophia mudah mendapat banyak teman. Tak terkecuali grup ‘penggosip’.

Salah satu kasus yang terheboh saat itu adalah putusnya pasangan yang telah tiga tahun pacaran. Alasannya karena si cewek menemukan cowok yang lebih pengertian daripada pacarnya. Padahal cowok barunya itu kalah jauh dibanding dengannya. Dari segi penampilan, sampai keahlian. Hah, tapi tak selamanya yang lebih unggul yang terpilih. Dan itulah batu terberat yang harus dibawanya.

Dari sini Sophia dan Eline pun langsung mengambil kesimpulan. Mereka berpendapat bahwa dia mendekatiku hanya untuk mempermainkanku –selama dua tahun. Dan semua itu karena ia mau balas dendam dengan traumatisnya.

Clep!

Sakit. Dalam. Sampai ke jantungku.

Ia telah merusak kepercayaanku. Segalanya.

Pantas saja ekspresinya selalu sama. Selalu seperti mengiba akan cinta sejati. Padahal cinta itu telah kuberikan kepadanya. Seluruh ketulusan telah kupersembahkan untuk yang kukasihi. Tapi ia tidak menanggapinya. Ia selalu berekspresi yang sama.

Dan hari ini pun tiba.

Mungkin semuanya terlalu cepat untukku. Tapi keputusanku telah matang. Telah kuhabiskan waktuku untuk memikirkan hal ini.

Siang berubah menjadi seperti malam. Matahari mulai bersembunyi di balik awan hitam. Semoga yang terjadi nanti, akan berakhir dengan indah. Harapku.

Teeett!

Tanda waktu ujian praktek Bahasa Indonesia terakhirku selesai juga. Itulah tanda bahwa semua siswa kelas XII harus meninggalkan ruangan. Inilah saatnya!

Kucegat dia di depan kelasnya. Dan kutarik lengannya agar ia tidak melarikan diri lagi dari hadapanku. Ia tampak marah, sekaligus bingung.

Setelah sampai di dekat parkiran, aku langsung to the point.

“Sekarang juga gue minta putus, Boy.”

Dengan tegas dan jelas aku melafalkan kata-kata tersebut.

“Hhh… Kamu minta putus, Putri?” dengan mendengus santai, tanyanya.

Plak!

Amarahku langsung memuncak. Seenaknya saja ia masih memanggil nama panggilan sayang kedua orang tuaku. Dengan nada yang menjijikan pula.

Tamparan keras ini langsung kuarahkan ke pipi kirinya.

Dammit, Boy! Jangan pernah memanggil namaku dengan sebutan itu lagi!”

Aku tak tahan lagi. Suaraku mulai lepas kendali. Dan aku benar-benar tidak ingin membuat keributan ini menjadi tontonan gratis orang lain.

Dia masih diam saja sambil memegang pipinya. Ia tak lagi menatapku.

Tenang… Tenang…

Dengan emosi yang kutekan aku berkata lagi. “Jadi selama ini, memang hal inilah yang kau inginkan? Dari dulu kau memang tidak mencintaiku?”

Dia tak bergeming. Aku pun diam menanti jawaban darinya.

“Iya,” katanya dengan pelan, tapi jelas di telingaku.

Apa?!

“Memang dari dulu aku tidak pernah mencintaimu. Apakah itu cinta?”

Ia menarik dan membuang nafas panjang.

“Kau hanya akan tertipu jika jatuh cinta. Dan orang yang percaya cinta adalah orang terbodoh di dunia,” sambungnya tak kalah dingin.

Kakiku langsung lemas mendengarnya. Ia benar-benar sakit.

“Aku deketin kamu, memang cuma karena kamu cantik dan menonjol di antara yang lainnya, Sayang. Harusnya kamu tahu itu,” jelasnya.

“Cukup!” teriakku.

Untungnya pada saat itu Eline dan Sophia sudah berada di sekitarku. Mereka membelaku. Tapi aku tidak lagi dapat mendengar dengan jelas. Semua alat inderaku lumpuh. Emosiku sudah mencapai batasnya. Air mata ini keluar tanpa bisa kubendung lagi. Hatiku terluka oleh kata-katanya. Ia benar-benar telah menyayat semua hal terindah yang pernah ia berikan.

Satu yang masih kusadari adalah kata terakhirnya sebelum ia pergi.

“Selamat tinggal, Zefalia Putrihera Kurniawan.”

Detik itu juga aku merasa tak hanya aku yang menangis. Matahari di balik awan pun ikut bersedih denganku. Tetesan air hujan dan tarikan tangan sahabatku menyadarkanku. Dia telah pergi. Dan itu nyata.

Aku digiring paksa pada sebuah keputusan baru. Keputusan bodoh. Sebuah keputusan untuk menjadi bagian diriku yang lain. Aku benci diriku yang sekarang –yang dulu. Yang dengan bodohnya dipilih bukan karena dicinta. Namun hanya eksistensi dan dendam semata.