Google+ Followers

Pages

Thursday, March 04, 2010

Got An Accident - Got More Experience

"Mengampuni.. Dan melupakan.. Itulah yang ENGKAU lakukan.. .."
Itulah sepenggal lirik dari Franky Sihombing yang ikut menentramkan setiap jengkal hati yang panas membara.

Biarlah dari sedikit pengamalan yang terjadi pada hari ini, penulis dapat semakin mengetahui keadaan dunia di balik kacamata lalu lintas.
Berawal dari sebuah rutinitas ke kampus. Penulis dibonceng oleh Twins menuju ke kampus. Dalam perjalanan penulis sudah mengucapkan doa. Pagi itu jalanan padat lancar, apalagi bagi pengguna sepeda motor. Terbersit di pikiran penulis lagu-lagu Sekolah Minggu yang menggugah semangat bak anak kecil di hari yang indah.
Tak dianya musibah melanda.
Pada bundaran Alam Sutra lampu merah-hijau polisi tetap terlaksana seperti biasa. Hingga tiba aba-aba hijau dari jalur si penulis dan kendaraan berwarna hijau itu melaju. Memang sudah saatnya dan motor dari jalur sebelah kiri (yang tentunya sudah mendapat lampu merah dari polisi) menyalib. Ia memberikan lampu sen ke kanan hingga kaki kanan si pengendara 'motor cowok' pun ikut dimainkan.
Twins sudah memperingatkan lewat klakson bahwa ia mau jalan duluan. Dan itu tidak salah karena polisi memang sudah mengatur sedemikian rupa agar tidak ada kendaraan yang berbeda arah saling 'bersliweran', simpang-siur.
Namun tak ada yang menghendaki, keduanya hampir bertabrakan.
Puji Tuhan!
Motor penulis tidak terjatuh. Ajaib! Memang! Karena Tuhan sudah mengaturnya.
Pada detik yang berjalan tersebut, ternyata Twins sempat menghindar dari kendaraan yang dikendarai oleh dua pria paruh baya. Motor tak saling bersentuhan! Faktanya motor hijau-kucel itu tak mengalami satu goresan pun.
Sialnya ya motor hitam tersebut. Ia menyangkut (entah bagaimana sampai bisa tesangkut) dengan tas tali milik penulis yang ditempatkan diantara penulis dengan Twins. Penulis tidak memakai tas itu selama perjalanan. Namun ternyata ada 'intrik' yang tak ada seorang pun tahu mengapa pengendara hitam tersebut bisa tersangkut tas tersebut hingga putus.
Tak hanya itu jam yang penulis gunakan juga terlepas dari tangan kirinya. Sungguh, semuanya terjadi begitu cepat. Motor dan kedua pengendara 'si Hitam' jatuh.
Puji Tuhan tidak ada yang luka serius, baik pihak perempuan maupun laki-laki.
Permasalahannya mulai muncul ketika si Hitam minta pertanggung-jawaban atas stang motor yang patah serta kelecetan parah yang dialaminya.

Panik! Heran! Tak suka! Marah! Bingung! Semuanya bercampur.

Pihak penulis langsung meminta maaf. Tapi mereka tetap tidak terima. Emosi pun ikut bermain. Akal sehat mulai kabur. Pengalaman pertama biasanya tak mudah dilewati.

Opsi dan opsi terus berlanjut untuk mencapai sebuah hasil akhir yang pantas. Pertama, menerima ganti rugi yang sudah pihak perempuan mampu berikan. Walau kecil, harap maklum karena mahasiswa dan orang tua sedang mengalami duka juga. Atau, pilihan kedua, ia silahkan melaporkan hal tersebut ke kantor polisi agar keputusan dari pihak ketiga berlembaga hukum ini, bisa berbuahkan keadilan. Dijamin kedua belah pihak pasti akan terimbas. Tapi itu lebih terdengar pilihan yang tak buruk.


apakah artinya para lulusan akademi kepolisian tersebut? Pihak yang mau melapor, si Hitam, keduanya tak ada yang mau bergerak ke polantas di bundaran, TKP. Penulis pun greget dan pergi sendiri mencari pria berseragam tersebut. Sekilas memang jalanan sudah lebih sepi dan lancar. Jadi tak ada satu pun batang hidung polantas yang terlihat. Dan terbukti. Seorang berseragam nampak jua. Sempat cerita versi yang diatas mengalir kepadanya (penulis yakin bahwa ia tak bercerita 100% sama s.d.a. karena emosi masih belum reda). Namun polantas tersebut terlalu sibuk - so busy - so sibuk. Ia meminta temannya menangani, namun temannya secara tak langsung berkata "tidak mau". Ia pun menyarankan penulis ke kantor polisi depan. Penulis pun mengingatkan bahwa motor hitam tidak bisa berjalan jauh. Tapi ia meyakinkan kantor tersebut tak jauh. Oleh karena itu penulis memutuskan melaksanakannya. Setelah memimpin para 'korban' di belakang, muncul perasaan bahwa kantor itu tidak nyata di dekat sini. Hingga penulis menemukan fakta dari para pekerja kaki lima.
Merasa tertipu. Tak dianggap. Capek fisik dan mental.

Penulis pun mulai mengkomunikasikannya dengan si Hitam, namun pemilik plat nomor yang masih H itu tak memberikan solusi hanya kepuasan dirinya sendiri.

Pikiran pun terbuka. Penulis berbalik menuju sarang kecil polantas di dekat bundaran Alam Sutra lagi. Sendiri.

Kenyataannya tak seperti bayangan semula. Para lelaki berseragam dan berpangkat di sana pun tak ada yang menentukan siapa yang salah dan benar. Tak ada yang mampu meluruskan mana yang baik dan harus dihindari. Mereka hanya menyuruh bernegosiasi secara baik-baik di kedua belah pihak. Tak ada jawaban yang dinanti. Jawaban yang dinanti pun masih abstrak.

Hingga datang seorang laki-laki paruh baya lagi -tanpa seragam- dan ia langsung masuk ke percakapan tak berakhir kami. Tak ada kecurigaan apa pun sampai ia menuntun penulis keluar dari 'sarang Tak Berjawab' menuju tempat para 'korban'. Kepolosan menganggap ia seorang warga hukum sirna ketika Twins dengan jelas bertanya identitasnya. Ternyata, ia bos dari si Hitam.

ALHASIL kejadian, motor hitam pulih stangnya di bengkel; tak ada pengeluaran; dapat absen dari kelas pagi. THX GOD ^^